SUARAAGRARIA.com, Sumsel - Sungguh miris mendengar kasus
tewas yang kerap terjadi akibat konflik pertanahan. Di kabupaten Ogan
Ilir Sumatera Selatan diduga dilakukan oknum anggota Brimob Polda
Sumsel. Korban diidentifikasi bernama Angga bin Darmawan, 12 tahun.
Ketua Umum Serikat Petani Indonesia Henry Saragih mengecam aksi Brimob
Polda Sumatra Selatan yang menyisir perkambungan warga di Desa Limbang
Jaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan pada Jumat (27/7) sore. Aksi
itu menyebabkan korban yang masih anak-anak tewas mengenaskan.
Tidak hanya Angga saja, beberapa warga juga mengalami luka tembak.
Mereka adalah Jessica, 16, Dud binti Juning, 30, Rusnam bin Alimin, dan
seorang lagi yang belum diketahui namanya.
Penyisiran yang dilakukan Brimob diduga terkait konflik agraria antara petani
Ogan Ilir dengan PTPN VII. Dengan dalih mengamankan aset PTPN VII,
pihak Brimob menyisir setiap desa untuk mencari petani yang mereka duga
berpotensi menggerakkan massa.
Setiap konflik agraria tetap disertai pelanggaran HAM, terutama terhadap
kaum tani. Petani selalu ditempatkan sebagai pihak yang salah dan
kalah. Sebaliknya, aparatur negara justru berada di posisi yang
berlawanan dengan rakyat. Mereka menjadi pelindung dan penjaga para
pemilik modal. Pemerintah juga tidak melakukan upaya secara adil dan
beradab dalam menyelesaikan konflik yang melibatkan petani tersebut,
demikian keterangan pers SPI.
Tindakan kekerasan dan penembakan oleh aparat brimob jelas merupakan
tindakan yang brutal dan melanggar hak masyarakat yang dijamin dalam
Konstitusi Republik Indonesia UUD 1945 Bab XA. Polri seharusnya
bersikap mandiri dan tidak memihak kepada golongan pemodal, sesuai
dengan visi dan misi Polri.
Lucunya, peristiwa berdarah ini terjadi hanya berselang dua hari setelah
Presiden SBY memberikan pengarahan pembentukan tim penyelesaian
sengketa agraria.
Sebelumnya, di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (25/7), Presiden
SBY berkomitmen untuk membentuk tim terpadu dalam mencari penyelesaian
masalah sengketa agraria (pertanahan), yang adil agar tidak meledak
sebagai bom waktu di masa mendatang
sumber/
source:
suaraagraria.com